Latest News
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Al Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi
Posted by Muslim Creative
on , under
Ulama
|
komentar (0)
Habib Ali Alhabsyi dilahirkan pada 1286 Hijriyah (1869 Masehi) di Kwitang. Ayahnya, Habib Abdurahman bin Abdullah Alhabsyi, adalah seorang ulama yang lahir di Petak Sembilan, Semarang (Jateng), yang kemudian tinggal di Jakarta (Betawi). Di Betawi, Habib Abdurrahman menikah dengan seorang puteri ulama kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) bernama Nyi Salmah. Pada tahun 1296 Hijriyah (1879 M), Habib Abdurrahman meninggal dunia ketika Habib Ali berusia 10 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di dekat kediaman Raden Saleh yang bersebelahan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) sekarang ini. Pelukis tenar yang punya nama di dunia internasional ini merupakan kemenakan ayah Habib Ali, sama-sama kelahiran Semarang.
Sebelum meninggal, Habib Abdurahman telah berwasiat kepada istrinya, Nyi Salmah, agar putranya (Habib Ali–Red) disekolahkan ke Hadramaut dan Makkah. Kala itu, untuk mendapatkan pendidikan agama, orang Betawi banyak menyekolahkan putra-putrinya ke Timur Tengah. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai kini.
Sesuai dengan pesan almarhum suaminya, Nyi Salmah pun menyekolahkan putranya ke Hadramaut. Selama lima tahun (1881-1886), Habib Ali berguru pada sejumlah ulama. Sebagai remaja yang haus akan ilmu, Habib Ali juga menempuh pendidikan di kota suci Makkah. Sekembali ke Indonesia, semangatnya untuk belajar terus menyala-nyala. Dia berguru dengan sejumlah ulama di Jakarta, termasuk Habib Usman Bin Yahya, mufti Betawi.
Ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslim di Tripoli, Libya, oleh Italia yang menjajah negeri itu, berita tidak berkemanusiaan ini pun sampai ke Jakarta. Banyak protes dari umat Islam, terutama melalui masjid-masjid. Dia pun diminta oleh gurunya, Habib Usman, di Masjid Pekojan, Jakarta Barat, berpidato untuk mengobarkan semangat kaum Muslim sebagai solidaritas terhadap saudaranya di Libya. Sejumlah tokoh Syarikat Islam (SI), seperti HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim, berperan besar dalam menggerakkan solidaritas umat Islam Indonesia. Mereka mencetuskan agar produk-produk Italia yang ada di Indonesia untuk diboikot. Di samping memboikot mobil Fiat, mereka juga membakar peci stambul buatan Italia yang banyak digunakan ketika itu.
Perjuangan kaum Muslim di Libya melawan penjajahan Italia ini dipimpin oleh Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul Lion of the Desert (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mukhtar.
Majelis taklim Kwitang didirikannya pada 1911. Dengan cepat, majelisnya didatangi banyak pengunjung, termasuk dari daerah-daerah pinggiran, seperti Ciputat, Condet, hingga Depok. Karena kendaraan bus kota belum ada kala itu, murid-muridnya berdatangan dengan naik kereta api dan sebagian besar menggunakan delman.
Di samping tasuwir (istilah untuk berpidato ketika itu), ia juga membuat beberapa kitab, seperti Al-Azhar al-Wardiyah (mengenai akhlak Nabi) dan Addurar Fi al-Shalawat al-Khair al-Bariyah (buku shalawat Nabi). Dia juga menggunakan kitab kuning karangan Habib Abdullah bin Alwi Alhadad, seorang ulama Hadramaut yang hidup sekitar 300 tahun lalu, yang mengarang Eatib Haddad yang masyhur itu.
Sebagai ulama yang dikenal luas, Habib Ali berdakwah di hampir seluruh tempat di Tanah Air. Dia juga memiliki banyak murid di Singapura dan Malaysia. Di samping itu, ia juga telah berkeliling ke berbagai negara, seperti Pakistan, India, Kolombo, dan Mesir.
Pendidikan Islam modern
Waktu itu, pendidikan agama lebih banyak dilakukan di rumah-rumah yang disebut ‘pengajian’ secara tradisional. Habib Ali merasa tertantang untuk membangun perguruan Islam modern. Maka, pada 1911, berdirilah Unwanul Falah yang letaknya di samping Masjid Kwitang. Pengajarannya dengan sistem modern, yaitu adanya pembagian kelas. Karena itulah, banyak orang yang mengakui bahwa Habib Ali adalah guru para ulama Betawi. Puluhan ulama terkenal pernah menjadi murid di Unwanul Falah yang juga terbuka untuk murid-murid wanita.
Sekitar 300 meter dari majelis taklim, terletak Masjid Djami Kwitang (Ar-Riyadh). Pada tahun 1910, masjid ini semula sebuah mushala kecil. Dengan usaha Habib Ali, pada 1918 surau itu mengalami pembaharuan pertama berupa masjid dengan ruang depannya sebagai madrasah. Madrasah ini dinamakan Unwanul Falah. Kemudian, madrasah ini dipisahkan dari masjid menjadi dua buah sekolah untuk pria dan wanita. Tanah tersebut diwakafkan pemiliknya, Al-Kaff.
Pada 1963, saat Habib Ali berusia lanjut, melalui putranya, Habib Muhammad, masjid diperluas untuk ketiga kalinya. Untuk itu, Habib Ali mengundang sejumlah tokoh Islam dan para ulama terkemuka. Ketika masjid diperluas untuk ketiga kalinya ini, ribuan jamaah secara sukarela bekerja bakti melaksanakannya. Pada akhir 1990-an, menantunya, Habib Said Mahdali, pun mempercantik masjid tersebut hingga saat ini.
Tahun 1960-an, ketika masjid Kwitang direnovasi, jumlah masjid tidak sebanyak sekarang. Letaknya pun di kampung-kampung. Sementara itu, gereja-gereja terletak di tepi jalan-jalan raya. Jumlah masjid mulai banyak dan tersebar di segenap tempat setelah terjadinya pemberontakan G30S/PKI. Masyarakat makin yakin untuk melawan pengaruh komunis. Masjid pun dianggap sebagai tempat pergerakan umat.
Beberapa murid beliau adalah pemimpin Majelis Taklim Asyafiiyah, KH Abdullah Syafei, dan pemimpin Majelis Taklim Tahiriyah, KH Tohir Rohili. Sejumlah ulama Betawi lainnya yang pernah berguru kepadanya dan membuka majelis taklim adalah KH Abdulrazak Makmun dan KH Zayadi. Tidak hanya menganggap mereka sebagai murid-muridnya, Habib Ali juga memperlakukan mereka seperti kerabat sendiri. Dia sering mendatangi mereka di kediamannya. Di majelis taklimnya, mereka selalu diberi kesempatan untuk berpidato. Kemudian, bergabung pula Habib Salim bin Djindan yang terkenal dengan pidato-pidatonya yang berapi-api. alwi shahab
Begitu Besar Cintanya pada Rasulullah
Sambil duduk di kursi dan memakai jubah serta berserban putih–layaknya Pangeran Diponengoro ketika memproklamirkan perlawanan terhadap Belanda–Habib Ali Alhabsyi dengan suara lembut mengajak ribuan jamaah di majelisnya untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketika menceritakan akhlak dan perjuangan Rasulullah SAW, Habib Ali sering menangis karena rasa cintanya pada junjungan umat tersebut. Bila sudah demikian, hadirin pun akan segera bershalawat untuk Rasulullah SAW.
Dalam meneladani akhlakul karimah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, Habib Ali dan penerusnya senantiasa mengajak umat untuk mempererat hubungan silaturahim dan persaudaraan serta menjauhkan diri dari ideologi kebencian, hasut, dengki, ghibah, fitnah, dan namimah.
Seperti juga majelis taklim, maulid di Kwitang termasuk maulid yang tertua di Jakarta dengan membaca kitab Simtud Duror, karangan ulama Hadramaut, Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi. Dia adalah guru dari Habib Ali Kwitang ketika belajar di Arab Selatan itu. Habib Ali telah menyelenggarakan maulid sebanyak 51 kali atas wasiat almarhum gurunya. Diteruskan oleh Habib Muhammad sebanyak 26 kali dan Habib Abdurahman selama 16 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di dekat kediaman Raden Saleh yang bersebelahan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) sekarang ini. Pelukis tenar yang punya nama di dunia internasional ini merupakan kemenakan ayah Habib Ali, sama-sama kelahiran Semarang.
Sebelum meninggal, Habib Abdurahman telah berwasiat kepada istrinya, Nyi Salmah, agar putranya (Habib Ali–Red) disekolahkan ke Hadramaut dan Makkah. Kala itu, untuk mendapatkan pendidikan agama, orang Betawi banyak menyekolahkan putra-putrinya ke Timur Tengah. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai kini.
Sesuai dengan pesan almarhum suaminya, Nyi Salmah pun menyekolahkan putranya ke Hadramaut. Selama lima tahun (1881-1886), Habib Ali berguru pada sejumlah ulama. Sebagai remaja yang haus akan ilmu, Habib Ali juga menempuh pendidikan di kota suci Makkah. Sekembali ke Indonesia, semangatnya untuk belajar terus menyala-nyala. Dia berguru dengan sejumlah ulama di Jakarta, termasuk Habib Usman Bin Yahya, mufti Betawi.
Ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslim di Tripoli, Libya, oleh Italia yang menjajah negeri itu, berita tidak berkemanusiaan ini pun sampai ke Jakarta. Banyak protes dari umat Islam, terutama melalui masjid-masjid. Dia pun diminta oleh gurunya, Habib Usman, di Masjid Pekojan, Jakarta Barat, berpidato untuk mengobarkan semangat kaum Muslim sebagai solidaritas terhadap saudaranya di Libya. Sejumlah tokoh Syarikat Islam (SI), seperti HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim, berperan besar dalam menggerakkan solidaritas umat Islam Indonesia. Mereka mencetuskan agar produk-produk Italia yang ada di Indonesia untuk diboikot. Di samping memboikot mobil Fiat, mereka juga membakar peci stambul buatan Italia yang banyak digunakan ketika itu.
Perjuangan kaum Muslim di Libya melawan penjajahan Italia ini dipimpin oleh Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul Lion of the Desert (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mukhtar.
Majelis taklim Kwitang didirikannya pada 1911. Dengan cepat, majelisnya didatangi banyak pengunjung, termasuk dari daerah-daerah pinggiran, seperti Ciputat, Condet, hingga Depok. Karena kendaraan bus kota belum ada kala itu, murid-muridnya berdatangan dengan naik kereta api dan sebagian besar menggunakan delman.
Di samping tasuwir (istilah untuk berpidato ketika itu), ia juga membuat beberapa kitab, seperti Al-Azhar al-Wardiyah (mengenai akhlak Nabi) dan Addurar Fi al-Shalawat al-Khair al-Bariyah (buku shalawat Nabi). Dia juga menggunakan kitab kuning karangan Habib Abdullah bin Alwi Alhadad, seorang ulama Hadramaut yang hidup sekitar 300 tahun lalu, yang mengarang Eatib Haddad yang masyhur itu.
Sebagai ulama yang dikenal luas, Habib Ali berdakwah di hampir seluruh tempat di Tanah Air. Dia juga memiliki banyak murid di Singapura dan Malaysia. Di samping itu, ia juga telah berkeliling ke berbagai negara, seperti Pakistan, India, Kolombo, dan Mesir.
Pendidikan Islam modern
Waktu itu, pendidikan agama lebih banyak dilakukan di rumah-rumah yang disebut ‘pengajian’ secara tradisional. Habib Ali merasa tertantang untuk membangun perguruan Islam modern. Maka, pada 1911, berdirilah Unwanul Falah yang letaknya di samping Masjid Kwitang. Pengajarannya dengan sistem modern, yaitu adanya pembagian kelas. Karena itulah, banyak orang yang mengakui bahwa Habib Ali adalah guru para ulama Betawi. Puluhan ulama terkenal pernah menjadi murid di Unwanul Falah yang juga terbuka untuk murid-murid wanita.
Sekitar 300 meter dari majelis taklim, terletak Masjid Djami Kwitang (Ar-Riyadh). Pada tahun 1910, masjid ini semula sebuah mushala kecil. Dengan usaha Habib Ali, pada 1918 surau itu mengalami pembaharuan pertama berupa masjid dengan ruang depannya sebagai madrasah. Madrasah ini dinamakan Unwanul Falah. Kemudian, madrasah ini dipisahkan dari masjid menjadi dua buah sekolah untuk pria dan wanita. Tanah tersebut diwakafkan pemiliknya, Al-Kaff.
Pada 1963, saat Habib Ali berusia lanjut, melalui putranya, Habib Muhammad, masjid diperluas untuk ketiga kalinya. Untuk itu, Habib Ali mengundang sejumlah tokoh Islam dan para ulama terkemuka. Ketika masjid diperluas untuk ketiga kalinya ini, ribuan jamaah secara sukarela bekerja bakti melaksanakannya. Pada akhir 1990-an, menantunya, Habib Said Mahdali, pun mempercantik masjid tersebut hingga saat ini.
Tahun 1960-an, ketika masjid Kwitang direnovasi, jumlah masjid tidak sebanyak sekarang. Letaknya pun di kampung-kampung. Sementara itu, gereja-gereja terletak di tepi jalan-jalan raya. Jumlah masjid mulai banyak dan tersebar di segenap tempat setelah terjadinya pemberontakan G30S/PKI. Masyarakat makin yakin untuk melawan pengaruh komunis. Masjid pun dianggap sebagai tempat pergerakan umat.
Beberapa murid beliau adalah pemimpin Majelis Taklim Asyafiiyah, KH Abdullah Syafei, dan pemimpin Majelis Taklim Tahiriyah, KH Tohir Rohili. Sejumlah ulama Betawi lainnya yang pernah berguru kepadanya dan membuka majelis taklim adalah KH Abdulrazak Makmun dan KH Zayadi. Tidak hanya menganggap mereka sebagai murid-muridnya, Habib Ali juga memperlakukan mereka seperti kerabat sendiri. Dia sering mendatangi mereka di kediamannya. Di majelis taklimnya, mereka selalu diberi kesempatan untuk berpidato. Kemudian, bergabung pula Habib Salim bin Djindan yang terkenal dengan pidato-pidatonya yang berapi-api. alwi shahab
Begitu Besar Cintanya pada Rasulullah
Sambil duduk di kursi dan memakai jubah serta berserban putih–layaknya Pangeran Diponengoro ketika memproklamirkan perlawanan terhadap Belanda–Habib Ali Alhabsyi dengan suara lembut mengajak ribuan jamaah di majelisnya untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketika menceritakan akhlak dan perjuangan Rasulullah SAW, Habib Ali sering menangis karena rasa cintanya pada junjungan umat tersebut. Bila sudah demikian, hadirin pun akan segera bershalawat untuk Rasulullah SAW.
Dalam meneladani akhlakul karimah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, Habib Ali dan penerusnya senantiasa mengajak umat untuk mempererat hubungan silaturahim dan persaudaraan serta menjauhkan diri dari ideologi kebencian, hasut, dengki, ghibah, fitnah, dan namimah.
Seperti juga majelis taklim, maulid di Kwitang termasuk maulid yang tertua di Jakarta dengan membaca kitab Simtud Duror, karangan ulama Hadramaut, Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi. Dia adalah guru dari Habib Ali Kwitang ketika belajar di Arab Selatan itu. Habib Ali telah menyelenggarakan maulid sebanyak 51 kali atas wasiat almarhum gurunya. Diteruskan oleh Habib Muhammad sebanyak 26 kali dan Habib Abdurahman selama 16 tahun.
Habib Ali yang meninggal dalam usia 99 tahun pada hitungan Masehi atau 103 tahun pada hitungan Hijriyah tidak pernah menyinggung masalah furu’iyah (cabang ilmu fikih). Dia menganggap, agama perlu diamalkan, bukan untuk diperdebatkan, apalagi saling memusuhi sesama kaum Muslim. Banyak yang mengatakan, inilah sebabnya majelis taklim Kwitang bertahan hampir satu abad. Sampai kini, majelis taklim di Kwitang ini telah memasuki generasi ketiga setelah Habib Ali. Disusul oleh putranya Habib Muhammad dan cucunya Habib Abdurahman. Putra Habib Abdurahman, yang juga bernama Habib Ali, tengah dipersiapkan untuk menjadi penerus di majelis taklim ini sebagai generasi keempat. Dia seorang sarjana komputer dan kini telah mendalami ilmu agama di Hadramaut, sebagaimana pernah dilakukan buyutnya, Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi.
Majelis Taklim Habib Ali dan maulid tiap akhir Kamis bulan Rabiulawal tidak pernah sunyi didatangi pejabat negara. Mulai dari masa Bung Karno, yang menurut Habib Abdurahman telah mengenal baik kakeknya sebelum kemerdekaan. Pada tahun 1963, rencananya Bung Karno akan datang kembali, tapi karena berbagai faktor, yang mewakilinya pada peringatan maulid kala itu adalah PM Djuanda. Tahun 1965, ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA), para tamu dan kepala negara pun diantar menko KASAB Jenderal AH Nasution berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Pimpinan Liga Muslimin Sedunia ketika ke Indonesia juga berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Demikian pula dengan Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan SBY yang sudah mengunjungi majelis ini.
Hindari perbedaan
Ketika tahun 1950-an dan 1960-an, situasi politik tengah memanas, ditambah lagi masih kerasnya perbedaan khilafiyah. Habib Ali dan ulama-ulama Betawi pun memaknainya hanya sebagai sebuah pendapat. Karena itu, Habib Ali tak mau membesar-besarkan perbedaan, apalagi berbeda dalam masalah khilafiyah.
Majelisnya itu terbuka untuk semua golongan. Tidak heran kalau majelisnya kerap didatangi oleh orang-orang Muhammadiyah. Bahkan, KH Abdullah Salim, pimpinan Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru, sering datang ke majelisnya. Dan, selalu diberikan kesempatan untuk berpidato oleh Habib Ali.
Ada hal menarik pada pemilu pertama tahun 1955. Ketika itu, NU baru saja memisahkan diri dari Masyumi dan membentuk partai sendiri. Dalam masa kampanye itu, Habib Ali tidak menampakkan diri berpihak pada salah satu partai dan tidak mengemukakan pilihannya secara terbuka meski lebih dekat kepada Partai NU. Sedangkan, murid dan pengikut setianya, KH Abdullah Syafei, yang saat itu masih muda dan gagah justru menjadi aktivis dan tokoh Masyumi. Perbedaan partai ini tidak berdampak sedikit pun terhadap hubungan akrab antara guru dan murid.
Sumber : http://dunia.pelajar-islam.or.id
Majelis Taklim Habib Ali dan maulid tiap akhir Kamis bulan Rabiulawal tidak pernah sunyi didatangi pejabat negara. Mulai dari masa Bung Karno, yang menurut Habib Abdurahman telah mengenal baik kakeknya sebelum kemerdekaan. Pada tahun 1963, rencananya Bung Karno akan datang kembali, tapi karena berbagai faktor, yang mewakilinya pada peringatan maulid kala itu adalah PM Djuanda. Tahun 1965, ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA), para tamu dan kepala negara pun diantar menko KASAB Jenderal AH Nasution berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Pimpinan Liga Muslimin Sedunia ketika ke Indonesia juga berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Demikian pula dengan Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan SBY yang sudah mengunjungi majelis ini.
Hindari perbedaan
Ketika tahun 1950-an dan 1960-an, situasi politik tengah memanas, ditambah lagi masih kerasnya perbedaan khilafiyah. Habib Ali dan ulama-ulama Betawi pun memaknainya hanya sebagai sebuah pendapat. Karena itu, Habib Ali tak mau membesar-besarkan perbedaan, apalagi berbeda dalam masalah khilafiyah.
Majelisnya itu terbuka untuk semua golongan. Tidak heran kalau majelisnya kerap didatangi oleh orang-orang Muhammadiyah. Bahkan, KH Abdullah Salim, pimpinan Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru, sering datang ke majelisnya. Dan, selalu diberikan kesempatan untuk berpidato oleh Habib Ali.
Ada hal menarik pada pemilu pertama tahun 1955. Ketika itu, NU baru saja memisahkan diri dari Masyumi dan membentuk partai sendiri. Dalam masa kampanye itu, Habib Ali tidak menampakkan diri berpihak pada salah satu partai dan tidak mengemukakan pilihannya secara terbuka meski lebih dekat kepada Partai NU. Sedangkan, murid dan pengikut setianya, KH Abdullah Syafei, yang saat itu masih muda dan gagah justru menjadi aktivis dan tokoh Masyumi. Perbedaan partai ini tidak berdampak sedikit pun terhadap hubungan akrab antara guru dan murid.
Sumber : http://dunia.pelajar-islam.or.id
AlHabib Alwi bin Muhammad Al Haddad
Posted by Muslim Creative
on , under
Ulama
|
komentar (0)
Beliau dilahirkan di kota Qeidun, Hadramaut, pada tahun 1299 H. Sanad keturunan beliau termasuk suatu silsilah dzahabiyyah, sambung-menyambung dari ayah yang wali ke kakek wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebagaimana kebanyakan para Saadah Bani Alawi, beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya sendiri Al-Habib Muhammad bin Thohir bin Umar Alhaddad.Kakek beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad adalah seorang ulama besar di kota Geidun, Hadramaut. Sedangkan ayah beliau adalah seorang Wali min Auliyaillah dan ulama besar yang hijrah dari kota Geidun, Hadramaut ke Indonesia dan menetap di kota Tegal. Beliau Al-Habib Thohir banyak membaca buku dibawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli hadist dan ahli tafsir.
Setelah digembleng oleh ayahnya, beliau lalu berguru kepada :
As-Syaikh Abdullah bin Abubakar Al-Murahim Al-Khotib (di kota Tarim)
As-Syaikh Abud Al-Amudi (di kota Geidun)
Setelah itu beliau memulai pengembaraannya di sekitar kota-kota di Hadramaut untuk menuntut ilmu dan menghiasi kemuliaan nasabnya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau keliling dari satu kota ke kota yang lain untuk mengambil ilmu dari ulama-ulama besar yang beliau jumpai. Diantara para guru yang beliau berguru kepada mereka adalah :
Al-Habib Husain bin Muhammad Albar (di Gerain)
Al-Habib Umar bin Hadun Al-Atthas (di Masyhad)
Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas (di Huraidhah)
Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Atthas (di Maula Amed)
Al-Habib Umar Maula Amed (di Maula Amed)
Al-Habib Abdillah bin Umar bin Sumaith (di Syibam)
Al-Habib Abdullah bin Hasan bin Shaleh Al-Bahar (di Thi Usbuh)
Al-Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi (di Hauthoh Ahmad bin Zein)
Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi (di Ghurfah)
Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut)
Al-Habib Idrus bin Alwi Alaydrus
Al-Habib Abdulqodir bin Ahmad Alhaddad (di Tarim)
Itulah guru-guru beliau yang ada di Hadramaut, dimana mereka semua kebanyakan adalah ulama-ulama besar dan tidak jarang pula yang termasuk Wali min Auliyaillah.
Pada suatu saat, beliau ingin sekali menunaikan ibadah Haji dan lalu berziarah ke datuk beliau termulia Rasulullah SAW. Setelah mendapat ijin dari kakek beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad, berangkatlah beliau menuju ke kota Makkah dan Madinah. Setelah beliau menunaikan keinginannya, timbullah niat beliau untuk belajar dari para ulama besar yang ada di dua kota suci tersebut. Lalu beliau menuntut ilmu disana dengan berguru kepada :
As-Syaikh Said Babshail
As-Syaikh Umar bin Abubakar Junaid
Al-Habib Husin bin Muhammad Al-Habsyi (Mufti Syafi’iyah pada masa itu)
Setelah dirasa cukup menuntut ilmu disana, timbullah keinginan beliau untuk berhijrah ke Indonesia, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh ayah beliau Al-Habib Muhammad. Sesampailah beliau di Indonesia, beliau lalu berziarah ke makam ayah beliau Al-Habib Muhammad bin Thohir Alhaddad yang wafat di kota Tegal, Jawa Tengah, pada tahun 1316 H.
Keinginan beliau untuk selalu menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus terbawa jaman. Inilah salah satu kebiasaan beliau untuk selalu mencari dan mencari ilmu dimanapun beliau berada. Tidaklah yang demikian itu, kecuali beliau mencontoh para Datuk beliau yang gemar menuntut ilmu, sehingga mereka bisa menjadi ulama-ulama besar. Diantara para guru beliau yang ada di Indonesia adalah :
Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (di Surabaya)
Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (di Surabaya, yang kemudian beliau dikawinkan dengan anaknya)
Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas (di Bogor)
Al-Habib Salim bin Alwi Al-Jufri (menetap di Menado)
Al-Habib Idrus bin Husin bin Ahmad Alaydrus (wafat di India dalam dakwahnya)
Di Indonesia, beliau memilih untuk menetap di kota Bogor. Disana beliau berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar dan ahli hadits. Di kota Bogor beliau banyak mengadakan majlis-majlis taklim dan mengajarkan tentang Al-Islam. Sampai akhirnya beliau dipanggil oleh Allah menuju ke haribaan-Nya. Beliau wafat di kota Bogor tahun 1373 H dan dimakamkan di Empang, Bogor.
Seorang ulama besar telah berpulang, namun jejak-jejak langkah beliau masih terkenang. Nama baik beliau selalu tersimpan dalam hati para pecintanya…dalam hati yang paling dalam, menyinari kehidupan suram nan kelam…




